TENTANG IAA 2018
DUNIA KOMIK
KURATOR
INFO

DUNIA KOMIK

Latar Belakang Pemikiran

Menimbang pemahaman bahasa, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa komik adalah seni rupa juga dan seluk beluknya layak disebut seni komik. Namun dalam kenyataan—yang tidak bisa menghindar dari kekuasaan wacana—dunia seni rupa (artworld) dan dunia komik sangat berbeda. Perkembangan seni rupa dibayangi pergolakan wacana yang paralel dengan perubahan dan penerobosan pada art making. Perkembangan komik tidak pernah menunjukkan perubahan besar akibat penjelajahan mencari terobosan baru karena  kebaruan selalu punya resiko menjadi esoterik atau terkucil dari masyarakat. Keutamaan komik adalah menangkap aspirasi publik dan menampilkannya sebagai ungkapan yang dimengerti masyarakat.

 

Komik dekat dengan kesenian tradisional. Ungkapan pada kedua dunia ini tidak pernah menghadapi masalah komunikasi. Nilai-nilai pada ungkapannya dipahami masyarakat karena merupakan perayaan nilai-nilai bersama. Bahasa ungkapannya adalah bahasa yang dibentuk secara kolektif. Pengembangan yang terjadi pada dasarnya menguatkan bahasa ungkapan dan tanda-tanda yang sudah populer dan karena itu komunikatif.

 

Dalam wacana seni rupa, ungkapan pada komik dan kesenian tradisional—yang melekat ke budaya—dibedakan dari ungkapan pada kesenian yang dilihat sebagai gejala spesifik dan berjarak dari budaya.  Dalam wacana ini ungkapan yang melekat pada budaya disebut-sebut vernacular.

 

Dalam kamus Oxford, ”vernacular” dijelaskan sebagai, “kata sifat untuk menjelaskan sifat bahasa.” Contoh, “vernacular languages of India,” yang maknanya adalah “bahasa daerah yang sangat banyak di India.” Penggunaan vernacular untuk membedakan kesenian sebagai gejala spesifik dengan kesenian tradisional tampil eksplisit pada wacana arsitektur. Bangunan tradisional disebut vernacular (bangunan yang membawa sifat daerah). Rancangan dan pembuatannya dikerjakan secara kolektif. Bangunan-bangunan ini menggunakan prinsip membangun yang mendasar dan sederhana. Bahasa bangunan-bangunan ini membawa sifat-sifat lokal. Tanda-tanda, simbol dan makna-makna pada bentuknya dipahami hanya di lingkungan di mana bangunan ini didirikan. Keindahan pada vernacular bersifat arbitrer, di tentukan secara kolektif didasarkan kompromi dan berbagai kesepakatan.

 

Sifat-sifat vernacular itu merupakan kebalikan sifat-sifat arsitektur, istilah bagi bangunan di zaman modern. Arsitektur adalah bangunan yang bentuk, keindahan, dan maknanya membawa sifat-sifat universal. Arsitektur adalah bangunan yang melibatkan pemikiran dan tujuan-tujuan besar—seringkali muncul dari individu-individu jenius. Seluk beluk disain arsitektur berkaitan dengan pemikiran, visi, cita-cita, dan idealisme. Karena itu rancangan dan teknologi membangun pada arsitektur (disebut juga pengkonstruksian) tidak sederhana.

 

Pensejajaran komik dengan kesenian tradisional menyorongkan kesimpulan, komik  membawa tanda-tanda vernacularity.  Simbol, tanda-tanda, keindahan dan makna pada komik (di seluruh dunia) memang ditentukan secara kolektif yang melibatkan berbagai kompromi dan kesepakatan. Selain itu komik memang membawa sifat-sifat lokal. Komik Indonesia pada era 1950, misalnya,  didominasi komik wayang sementara kebanyakan komik Indonesia pada perkembangan 1960 mengangkat legenda dari dunia tradisi. Ketika komik Indonesia didominasi komik laga pada 1970an, latar belakang ceritanya seringkali berasal dari cerita rakyat yang dikenal secara tradisional.

 

Komik adalah cerita gambar bukan cerita bergambar di mana gambar berperan sekadar sebagai ilustrasi. Cerita pada komik tidak bisa dilepaskan dari tanda-tanda gambar seperti misalnya gambaran yang memperlihatkan perwatakan tokoh, ekspresi wajah, atau tanda-tanda gerak tubuh dan kendaraan. Tanda-tanda gambar ini bagian dari narasi yang bila ditiadakan akan memacetkan alur cerita.

 

Pembuatan dan pengembangan tanda-tanda gambar itu melibatkan kepekaan artistik yang bersifat ekspresif (tidak ada hubungannya dengan ekspresionisme). Dalam Bahasa Inggris pengertian sifat ekspresif ini tercermin pada istilah, “expressiveness“ yang tidak ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, namun dalam bentuk kalimat adalah “gejala bicara yang bersemangat.” Terkesan ekspresif karena upaya menampilkan tekanan-tekanan pada cara bicara ini melibatkan mimik, gesture, dan, gerak tubuh terutama gerak tangan.

 

Dalam kamus Thesaurus expressiveness punya sejumlah sinonim. Di antaranya eloquence (kemampunan bicara secara menarik karena melibatkan macam-macam tekanan),  articulateness  (kemampuan berbicara dengan jelas), fluency (fasih) dan persuasiveness (kemampuan menarik simpati dalam berbicara).  Makna semua kata ini menunjukkan kemampuan/keterampilan menyampaikan pesan pada komunikasi. Dasarnya, kapasitas menangkap dan merekam berbagai tanda komunkasi dan menyimpannya dalam memori.  Ketika berbicara atau menyampaikan pesan tanda-tanda komunikasi yang tersimpan dalam memori digunakan.

 

Secara bersama-sama makna kata-kata itu menunjukkan expressiveness mencerminkan kelancaran berbicara yang melibatkan perasaan dan emosi. Menandakan kelancaran ini tidak cuma karena penguasaan sesuatu bahasa. Ada kapasitas yang melampaui (beyond) penguasaan bahasa.  Kapasitas ini adalah kemampuan merasakan bahasa yang melibatkan perasaan dan emosi. Kapasitas ini tidak selalu bisa dijelaskan, namun di lingkungan kita bisa dipahami dengan membandingkan penguasaan bahasa daerah dengan penguasaan Bahasa Indonesia, dan penguasaan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Mudah dipahami bahasa daerah adalah bahasa yang paling mungkin dirasakan secara emosional. Bahasa daerah ini adalah bahasa ibu, atau, “mother’s tounge.

 

Catatan itu memperjelas gejala vernacularity pada komik. Kekuatan artistik bahasa gambar pada komik muncul karena seniman komik menguasai bahasa ini seperti menguasai bahasa ibu. Bahasa ini adalah bahasa budaya. Kefasihan ini yang menghadirkan eloquence, fluency, articulateness , dan persuasiviness. Kekhasan komik yang beragam—membuat nama komikus muncul di dunia komik—tidak berpangkal pada semangat avant-garde yang masih hadir sampai sakarang di dunia seni rupa. Kekhasan ini bertumpu pada keinginan menguatkan bahasa gambar yang sudah populer yang dibentuk secara kolektif.

 

Ada mitos yang percaya bahwa “vernacularity” tidak akan menghasilkan karya besar. Ada catatan sejarah yang bisa digunakan untuk mengukuhkan demistifikasi keyakinan ini. Karya besar Dante Alighieri—di antaranya Inferno—yang tidak bisa disangkal menjadi salah satu dasar terbentuknya kebudayaan Barat, ditulis pada 1300 dalam Bahasa Italia dan bukan Bahasa Latin. Di masa itu Bahasa Italia adalah bahasa ibu sementara Bahasa Latin adalah bahasa universal di Eropa waktu itu. Ketika karya-karya Dante Alighieri diterjemahkan ke Bahasa Latin—sekarang ini bahkan ke semua bahasa di dunia—kadar -nilainya sama sekali tidak pudar.

Bekerjasama Dengan :
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
© 2017 Indonesia Art Award
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Bekerjasama Dengan :
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
© 2017 Indonesia Art Award
Bekerjasama Dengan :
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
© 2017 Indonesia Art Award
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Gudang Garam
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Yayasan Seni Rupa Indonesia
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa -  Institut Kesenian Jakarta
Indonesia Art Award 2018 bekerja sama dengan Galeri Nasional Jakarta
© 2017 Indonesia Art Award